Oleh : Ita

UANG SPP TAHUN INI AKAN DINAIKKAN!

Itulah kalimat yang tertera pada spanduk besar yang terpasang di dinding gedung auditorium kampus. Setiap mahasiswa yang melintas tentu dapat melihat tulisan itu dengan jelas. Spanduk itu berukuran 3 kali 2 meter dan setiap huruf dicetak dengan huruf kapital berwarna merah. Jika kita melihat sekilas, spanduk itu serupa peringatan dan penekanan bagi siapapun yang melihatnya.

Reaksi mahasiswa yang melihatnya beragam. Ada yang cuek atau biasa-biasa saja, ada yang geleng-geleng kepala, ada yang pasrah, dan ada pula yang singgah untuk menatapnya. Seperti yang dilakukan Aco.

Aco berdiri diam menatap penuh kesal kepada spanduk itu.

“Wah, apa-apaan ini? Kok SPP dinaikin lagi sih?” Gumamnya kesal.

Spanduk itu baru dipasang dua hari yang lalu. Andri teman-nya-lah yang memberitahukan Ia mengenai spanduk itu. Tak lama berselang Ia kemudian segera merogoh sesuatu di dalam tasnya lalu mengeluarkannya. Sebuah gunting. Ia naik ke lantai dua tempat spanduk itu diikatkan. Tanpa ragu ia mulai memotong tali spanduk itu.

Tak jauh dari tempat itu, seorang satpam yang sedang berjaga melihat apa yang dilakukan Aco. Ia lalu mendekat.

Tali pengikat spanduk telah terlepas satu yang mengakibatkan spanduk itu miring dan tertutup sebagian.

“Hahaha sisa ujung yang satunya lagi”. Ucap Aco.

Ternyata mudah saja, cukup buka spanduk ini dan sembunyikan maka tak akan ada yang tahu kalau SPP naik, pikir Aco. Saat ia berjalan menuju ikatan spanduk yang lain, sebuah tangan kokoh menarik kerah bajunya dari belakang.

“Apa yang kamu lakukan?” Tanya pak satpam dengan wajah garang.

Aco berbalik dan mencoba melepaskan tangan satpam itu.

“Saya mau lepas spanduk ini. Enak saja bikin spanduk dengan kalimat seenaknya begini!” Jawab Aco marah, tidak terima ia diperlakukan seperti maling ketangkap basah. Mereka berdua pun terlibat debat kecil.

Orang-orang mulai berkerumun di sekitar mereka berdua. Suara ribut mereka yang sedang berselisih mengundang rasa penasaran orang yang lewat.

“Sekali lagi saya ulangi yah Pak, pokoknya saya tidak terima kalau SPP dinaikkan! SPP tahun kemarin aja udah tinggi Pak, kalo dinaikin lagi susah dong kita para mahasiswa untuk membayarnya,” Ujar Aco ngotot.

Sebagian mahasiswa yang menyaksikan perdebatan seru itu turut membela Aco. Mereka sesekali berseru menyemangati dan menunjukkan rasa setuju mereka dengan ikut memarahi satpam itu.

“Betul yang dikatakan teman saya Pak. Lagian untuk apa sih SPP dinaikin kalo air di WC aja gak pernah lancar, AC di kelas pada rusak, dan meja kursi patah-patah. Tahun lalu udah dinaikin, tapi gak ada peningkatan. Dikemanain tuh uang kita?,” salah seorang mahasiswi menambahkan.

“Betul itu, betul!,” seru yang lainnya serempak.

“Bagaimana kalo sekalian aja kita ke rektorat. Kita panggil Ibu Rektor untuk menjelaskan ini semua. Apa alasan dibalik kenaikan SPP. Bagaimana teman-teman, mau tidak?,” tanya Aco kembali menengahi.

Semua mahasiswa seketika diam. Mereka hanya saling pandang satu sama lain. Tidak berani.

Semangat Aco yang semula timbul kini hilang. Bagaikan api berkobar yang seketika diterpa tsunami. Lenyap tak bersisa.

“Sudah sudah! Tidak usah kalian menghadap Ibu Rektor. Sekarang beliau sedang sibuk. Tidak ada waktu untuk meladeni kalian semua. Cukup kamu saja yang saya bawa untuk menghadap kepada dia. Kamu harus bertanggung jawab untuk perbuatanmu itu.” Tegas Pak Satpam sambil menarik lengan Aco, menyeretnya ke Rektorat diikuti pandangan prihatin dari mahasiswa lainnya.

Lima belas menit kemudian, Aco sudah duduk di depan Ibu Rektor. Ia duduk dengan perasaan tegang, takut apa yang akan menimpa dirinya.

Ibu Rektor menutup map yang dibacanya dan meletakkannya di mejanya. Ia lalu menatap ke arah Aco.

“Saya dengar kamu mencoba melepaskan spanduk tentang kenaikan SPP yang ada di depan auditorium. Kenapa kamu melakukan itu?” Tanya Ibu Rektor.

“Saya tidak setuju dengan keputusan itu Ibu.”

“Kenapa kamu tidak setuju?”

“Ibu pasti tahu. Kalau uang SPP dinaikkan, berarti kami harus membayar lebih banyak. Uang itu susah dicari Ibu.” Jelas Aco berusaha menahan emosi. Ia merasa Ibu Rektor telah menanyakan pertanyaan yang telah ia ketahui sendiri jawabannya.

Ibu Rektor lalu tersenyum sinis. “Kenapa baru sekarang kamu mempermasalahkannya?”

“Maksud Ibu apa?” Aco bingung.

Sudah seminggu lalu saya lemparkan wacana ini kepada semua pihak kampus, termasuk mahasiswa. Saya yakin juga telah ada pembicaraan yang kalian lakukan sebelumnya untuk membahas hal ini. Apa yah namanya, kon…konsolidasi. Yah itu dia, konsolidasi mahasiswa.

Kening Aco berkerut menandakan kebingungannya. Ia merasa semakin tidak nyaman.

“Kenapa? Kamu tidak tahu yah?” Ibu Rektor ternyata bisa membaca sikap Aco dengan jelas.

“Teman kamu yang menjadi perwakilan kemarin telah menyepakati mengenai kenaikan SPP ini. Ia berkata bahwa setiap perwakilan fakultas telah merundingkan hal itu dalam konsolidasi dan mereka sepakat.”

Aco masih terdiam. Ia berusaha mencerna semua yang dikatakan Ibu Rektor.

“Kemana saja kamu selama ini? Kamu pasti mahasiswa kupu-kupu yah? Kuliah-pulang kuliah-pulang. Nggak tahu apa-apa soal perkembangan kampus.”

Ibu Rektor lalu bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah jendela ruangannya. Sementara Aco tetap diam. Ia merasa semakin tersudutkan.

“Sebaiknya kamu keluar saja. Semuanya sudah jelas, ini sudah kesepakatan bersama. Kalau kamu masih enggan menerima, itu tak akan berarti apa-apa. Karena regulasi telah dibuat. Hitam di atas putih. Mengubah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi dengan cara bodoh seperti berusaha melepas spanduk dan diapakan… disembunyikan? Hahahaha lucu sekali kamu. Lebih baik kamu keluar sekarang. Tapi satu pesan saya, kalau tidak setuju dengan sesuatu, perjuangkan apa yang menurutmu benar. Saya ada rapat sekarang dan saya tidak suka menghabiskan waktu saya hanya untuk membahas masalah remeh seperti ini.”

Aco pun keluar dengan rasa malu yang amat sangat. Ia tersinggung dengan perkataan Ibu Rektor tadi. Sepanjang perjalanan pulang ia tak berhenti memikirkannya. Ia tidak merasa sebagai mahasiswa kupu-kupu. Ia adalah mahasiswa yang kerap ikut terlibat dalam diskusi-diskusi yang diadakan di fakultasnya. Hanya saja ia mengakui ia tak sekalipun pernah mengikuti konsolidasi. Dan itu karena ia tidak berhak mewakili himpunannya sendiri. Telah ada orang lain yang memegang posisi itu.

Aco kini menyadari satu hal.

“Akan aku suarakan sendiri pendapatku. Persetan dengan perwakilan-perwakilan mahasiswa bodoh itu!”.

_____________________________

Penulis adalah mahasiswa Jurusan Sastra Inggris FIB Unhas

Angkatan 2015.

Previous Mengapa Wajah Pendidikan Kita Hari Ini Wajib Dipertanyakan?
Next Untuk Manusia ‘Zaman Now’: Komunisme Adalah Ilmu Perihal Manusia

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *