Judul                    :Summerhill School: Pendidikan Alternatif yang Membebaskan

Penulis                : Alexander Sutherland Neil

Penerjemah      : Agung Prihantoro

Penerbit              : No! Publisher

Cetakan               : Pertama (April, 2016)

Tebal                     : 354 Halaman

Kebebasan. Satu kata yang paling mewakili sistem pendidikan sebuah sekolah yang didirikan pada tahun 1921 di Inggris. Sekolah itu diberi nama Summerhill School, terletak diatas bukit (hill) di Lyme Regis. Alexander Sutherland Neil adalah pendiri sekolah ini sekaligus penulis buku ini. Neill yang sejak usia muda telah meniti karier sebagai guru di sekolah ayahnya, berkali-kali menjadi asisten guru. Kemudian pada usia 25 tahun dia telah meraih gelar M.A dalam Bahasa dan Sastra Inggris dari Universitas Edinburg.

Summerhill menjadi sekolah yang terkenal karena menerapkan prinsip kebebasan (freedom) dan prinsip swakelola (self-government) kepada anak didiknya. Neill pun termasyur berkat filosofi hidupnya yang radikal. Dia dipengaruhi bukan oleh para pedadog, tetapi oleh para psikolog semisal Sigmund Freud, William Stekel, Wilhelm Reich dan Homer Lane. Summerhill bukan sekedar sekolah tetapi sebuah cara hidup, hidup bersama orang lain dalam sebuah masyarakat dan mengekspresikan diri dengan segenap kecintaan kita pada kasih sayang, ilmu pengetahuan, dan karya.

Di sekolah ini anak-anak bebas mempelajari apa yang mereka suka, bahkan mereka  diizinkan untuk bermain saja tanpa ikut belajar di kelas. Tetapi apabila seorang anak tidak mengikuti pelajaran misalnya matematika pada hari senin dan kemudian tak masuk sampai hari jumat minggu depannya, anak-anak lain akan sangat keberatan ketika dia ikut pelajaran matematika lagi, dan mereka boleh menyuruhnya keluar jika dia ketinggalan pelajaran dan menganggu kelancaran belajar mereka.

Ketakutan adalah hal yang berusaha dihilangkan dalam lingkungan Summerhill. Ketakutan siswa terhadap guru harus dihilangkan, dan yang terpenting ketakutan terhadap hidup. Guru dalam hal ini staf Summerhill tak kenal gengsi, dan tak gila hormat. Untuk menghilangkan rasa takut, guru harus menghilangkan jurang yang memisahkan antara siswa dan guru di sekolah ini. Di sekolah-sekolah lain, jurang ini biasanya sengaja diciptakan oleh guru-guru yang ingin menjadi dewa-dewa kecil yang dibentengi harga diri mereka. Mereka takut jika mereka berlaku seperti manusia, otoritas mereka akan runtuh dan kelas yang mereka ajar menjadi hiruk-pikuk. Mereka takut melenyapkan ketakutan anak.

Disebabkan tidak adanya ketakutan, suatu hari seorang anak berusia sembilan tahun mendatangi Neill dan mengatakan tendangan bolanya memecahkan kaca jendela. Dia mau berterus-terang karena tidak khawatir Neill akan memarahinya. Dia harus bertanggung jawab atas pecahnya kaca jendela itu, tetapi tak takut akan dimarahi atau dihukum.

Perbedaan mencolok Summerhill dengan sekolah lainnya adalah praktik Swakelola yang dipercaya Neill akan membina anak-anak menjadi individu sekaligus anggota masyarakat. Summerhill adalah sekolah swakelola, sekolah demokratis. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan bersama atau kelompok, termasuk hukuman bagi para anggota komunitas yang berbuat onar, diputuskan lewat voting yang digelar dalam Rapat Umum pada malam minggu. Rapat Umum dipimpin bergiliran oleh anggota komunitas. Setiap staf sekolah (termasuk wali asrama) dan setiap anak, berapapun usianya, mengantongi satu hak suara. Hak suara Neill sama bobotnya dengan hak suara murid umur tujuh tahun.

Di Summerhill anak-anak dibebaskan jika hanya ingin bermain-main saja sebab Neill memahami jagat anak-anak bukanlah jagad orang dewasa; dunia anak-anak adalah dunia permainan; tak ada yang pernah merasa cukup dalam bermain. Teori yang dianut di Summerhill adalah bahwa ketika anak sudah merasa cukup dalam bermain, dia akan mulai bekerja dan memapak aneka kesulitan. Kehidupan anak kecil ialah kehidupan fantasi dan mereka menerjemahkan fantasi ini dalam perbuatan. Anak-anak menyukai musik dan lumpur. Mereka gemar naik-turun tangga. Mereka senang berteriak seperti orang udik.

Tak ada paksaan di Summerhill. Neill mengatakan “Memaksa anak-anak melakukan sesuatu dengan kuasa tertentu itu keliru. Anak-anak tidak boleh dipaksa untuk mengerjakan sesuatu; biarkan kesadaran mereka tumbuh dengan sendirinya untuk melakukan sesuatu. Paksaan eksternal baik dari Paus, negara, guru, maupun orangtua merupakan kutukan. Semua paksaan eksternal adalah fasisme.”

Seperti halnya di sekolah lainnya, selalu ada anak-anak yang bermasalah. Metode Summerhill untuk menyembuhkan anak-anak yang bermasalah itu bukan dengan menghukumnya. Neill memiliki metode yang berbeda, sebab menurutnya anak-anak yang bermasalah adalah anak-anak yang tidak mendapat kebahagiaan dan kasih sayang yang cukup. Sebagai contoh,  Neill menghadiahi seorang siswa pencuri kelas kakap dengan uang satu shilling setiap kali dia mencuri. Siswa yang suka mencuri itu adalah anak yang kekurangan kasih sayang, maka sebetulnya dia mencuri kasih sayang. Neill memberinya kasih sayang dalam wujud uang. Metode ini berkali-kali terbukti berhasil, persoalannya tak sesederhana itu. Bukan hanya hadiah Neill yang menyembuhkan siswa tersebut, tetapi kebebasan yang didapatkan siswa tersebut di Summerhill dan keinginan siswa tersebut untuk diterima oleh teman-temannya sebagai anak yang baik.

Di dalam buku ini Neill juga menjelaskan bagaimana pendidikan seks penting diajarkan kepada anak-anak. Summerhill menerapkan prinsip ko-edukasi yaitu menggabungkan anak laki-laki dan perempuan dalam satu kelas pelajaran dan memisahkan asrama mereka. Anak-anak tak lagi memendam keinginantahuan soal lawan jenis mereka. Di Summerhill, anak-anak lelaki dan perempuan bergaul sewajarnya. Pergaulan antara lelaki dan perempuan itu terlihat sangat sehat. Sehingga mereka tumbuh tidak dengan angan-angan atau khayalan tentang lawan jenis mereka. Neill melarang anak-anak berhubungan seks sebelum mereka menikah, sebab Summerhill pun tak terkecualikan dari moralitas Victorian. Meskipun ia berpandangan bahwa menyalurkan dorongan seksual remaja merupakan cara yang tepat untuk mendapatkan kehidupan seksual yang sehat kelak setelah mereka dewasa.

Melalui Summerhill, virus pendidikan alternatif yang membebaskan disebarkan keseluruh penjuru dunia. Meski sayangnya, prinsip kebebasan dan swakelola di Summerhill belum dilengkapi dengan mandiri secara ekonomi. Summerhil masih bergantung pada biaya pendidikan dari orangtua siswa dan donasi dari pihak luar. Sehingga Summerhill belum mampu menerima anak-anak miskin untuk mengenyam pendidikan gratis di Summerhill. (Ika)

Previous Suffragette, Kebangkitan Feminisme London
Next WR 3 Unhas Abaikan Pendapat Mahasiswa

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.