Genre              : Drama, History
Produser        : Sarah Gavron
Sutradara      : Sarah Gavron
Penulis           : Abi Morgan

Film Drama Hollywood “Suffragette” 2015 merupakan film dari Amerika Serikat dengan genre Drama dan History. Sarah Gavron bertindak sebagai Sutradara sekaligus Produser di film Suffragette ini. Dikatakan film Suffragette ini akan menjadi film terbaik di tahun 2015 dengan artist artist yang bernain di film ini seperti Carey Mulligan, Anne-Marie Duff, dan Helena Bonham Carter. Film ini dirilis pada tanggal 23 October 2015.

Film ini adalah salah satu film yang menggambarkan tentang perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak yang sama dalam hukum atau kesetraan sosial. Nama Suffragette sendiri berarti Gerakan Feminis. Film ini mengambil latar di London pada tahun 1912. Pada saat itu, wanita tidak memiliki hak pilih. Para wanita diwakilkan oleh ayah, suami, atau saudara-saudara mereka.

Tokoh utama dalam film ini yaitu Maud Watts (diperankan oleh Carey Mulligan) yang adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus buruh laundry di Glass House Laundry milik tuan Norman Taylor (diperankan oleh Geof Bell). Selama bekerja di tempat tersebut, Maud diam-diam direkrut oleh seorang wanita bernama Violet

Miller (diperankan oleh Anne-Mare Duff) untuk bergabung dalam Suffragette. Awalnya Maud menolak, namun melihat kondisi perempuan di sekitarnya yang kian memburuk membuat ia berubah pikiran. Ia kemudian ikut bersaksi – meski terpaksa, di pengadilan tentang betapa tidak adilnya hukum yang berlaku, bahwa hukum menindas para wanita.

Di pengadilan Maud bersaksi bahwa buruh wanita diupah lebih rendah dari buruh pria meski para wanita memiliki jam kerja lebih lama. Pelecehan seksual yang disaksikan oleh Maud yang dilakukan oleh atasannya tanpa sengaja juga menjadi pemantik munculnya rasa berang di hatinya. Bahkan secara tidak langsung, juga dijelaskan bahwa Maud sendiri pernah diperlakukan demikian.

Dalam film kita menyaksikan betapa berat perjuangan Maud dan Suffragette lainnya untuk meraih kesetaraan sosial tersebut. Ia harus dipenjara beberapa kali, melakukan gerakan bawah tanah, melakukan pertemuan rahasia untuk rencana mereka dan melakukan aksi teror untuk menggentarkan para petinggi negara. Maud bahkan harus berpisah dari putranya George Watts (Adam Michael Dodd) lantaran Sonny Watts, (diperankan oleh Ben Whishaw) sang suami, mengusir dia karena keterlibatannya dalam gerakan feminisme itu. Ternyata hukum saat itu tidak hanya mengbaikan hak suara wanita, tetapi juga hak ibu terhadap anak. Tak terkecuali para warga sekitar juga mengucilkannya.

Puncak dari perjuangan para Suffragette yaitu ketika diadakannya lomba pacuan kuda yang dihadiri oleh banyak orang termasuk raja dan perdana menteri. Kegiatan tersebut juga diliput oleh pers dunia sehingga menjadi momentum yang tepat bagi Suffregatte untuk menunjukkan kepada dunia tentang pergerakan wanita di London dengan cara mengibarkan bendera Gerakan Perempuan.

Saat itu, Emily Wilding Davison (Natalie Press), salah seorang aktivis Suffragette dengan beraninya masuk ke arena balapan saat pacuan kuda berlangsung. Alhasil ia pun tewas. Namun kabar baiknya, beberapa hari kemudian tersebar berita bahwa kematian Emily akan disiarkan di seluruh dunia dan hal it memancing perhatian dunia terhadap pergerakan perempuan di London.

Sejak tahun 1918, para wanita tertentu yang berusia di atas 30 tahun mulai diberikan hak pilih dan di tahun 1928 wanita dan pria telah memperoleh hak pilih yang sama dengan laki-laki.

‘Aku lebih memilih menjadi pemberontak, dari pada menjadi budak’, kata Emmeline Pankhurst (diperankan oleh Meryl Streep). Itulah mungkin salah satu kutipan yang paling menggambarkan perasaan para Suffragette saat itu. Keadaan bahwa hanya dengan bertindak dan berontaklah kita bisa mendapatkan hak kita, karena kata-kata tidak lagi berarti apa-apa.

Film ini dapat menjadi perbandingan kita (kaum hawa) untuk berani bertindak atas penindasan dan perlakuan tak setara yang pernah kita alami. Hanya dengan itu, kita bisa meraih kesetaraan…(ita)

Previous Perempuan dalam Perspektif Jurnalis
Next Summerhill School: Pendidikan Alternatif yang Membebaskan

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *