“Kita perlu mengevaluasi aksi yang lebih banyak bendera daripada massa. Apakah itu yang dimaksud gerakan massa?”

Kurang lebih demikian, Ari, seorang kawan dari UNM bertanya. Hari sudah sore, dan peserta diskusi banyak juga yang pergi. Namun mereka yang tinggal nampaknya masih ingin terus bertukar pikiran tentang keadaan gerakan mahasiswa Makassar hari-hari ini. Hingga akhirnya, launching dan bedah buku ‘Kota Para Demonstran’ karya Asri Abdullah dan Ostaf Al-Mustafa yang dimulai pukul 14.00 Wita di Aula Mattulada itu, baru berakhir pada pukul 16.50 Wita.

Kegiatan itu menghadirkan empat pembicara termasuk penulis buku tersebut, Asri Abdullah. Datang pula Aribowo dari pihak penerbit Airlangga University Press, Sawedi Muhammad selaku pembedah, dan Moh. N. Fiqri, mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Unhas yang coba merefleksikan gerakan mahasiswa Makassar belakangan ini. Acara bedah buku itu dimoderatori oleh Ano, yang membuka diskusi dengan sebilah puisi dari Ostaf Al-Mustafa, berjudul ‘Sebelum Bulan Kelima’.

“Tapi kini, sebelum bulan kelima, akankah kita berbenam bersama mereka ataukah melangit bersama kalian?” tanya penggalan sajak itu.

Dalam pembukaannya pula, Ano mengingatkan bahwa kini, di dua belah pihak yang bertarung di gelanggang pemilu itu, terdapat aktivis yang pada reformasi 1998 dulu bersekepal-bersepenuntutan. Walau kini orang-orang itu telah mengambil jalan berbeda, lantaran poros pemilu yang terbelah juga. Moderator bilang, “Semoga, kita yang di dalam sini, tetap kritis, siapapun yang jadi presiden di luar sana!

Tapi kini, sebelum bulan kelima, akankah kita berbenam bersama mereka ataukah melangit bersama kalian?

Orang pertama yang dipersilahkan untuk bicara adalah Asri Abdullah yang akrab di panggil Aco, salah seorang penulis buku Kota Para Demonstran. Ia memulai argumen dengan satu penegasan bahwa tulisannya ini bukanlah suatu tinjauan teoritik atau karya ilmiah semacamnya.

Tulisan itu adalah kisah perlawanan yang didasarkan pada catatan-catatan atau notulen hasil konsolidasi dan rapat mempersiapkan aksi turun ke jalan. Sehubungan dengan itulah, Asri mengatakan bahwa memang ada beragam jenis  medan perjuangan. Namun karyanya itu ia persembahkan bagi mereka yang memilih jalanan sebagai medan juangnya.

Suasana Launching dan Bedah Buku “Kota Para Demonstran” Foto: Jude Al Ginger

Asri awalnya menuliskan karyanya sebagai satu tulisan biasa. Hingga ia kemudian bertemu Ostaf Al-Mustafa yang juga memiliki latar belakang organisasi yang sama, yakni UKPM dan gemar menulis serta sering turun ke jalan semasa perlawanan terhadap Soeharto sedang masif digalangkan. Setelah tulisan itu mulai menemukan bentuknya, bagi mereka berdua kendala yang tersisa adalah penerbit.

Mereka sadar betul bahwa bicara soal penerbitan maka pertimbangan akan kualitas tulisan dan biaya mesti jadi bahan timbangan. Belum lagi konten yang isinya tentang demonstrasi, penerbit mana yang mau menerima naskah semacam itu? Sampai akhirnya Asri bertemu dengan  Ari, Kepala Airlangga University Press yang juga hendak meneliti  tentang pergerakan mahasiswa Makassar di antara tahun 2009-2014.

Aribowo sendiri mengatakan bahwa baginya buku ini sangat penting. Sebab ditulis dengan gaya bahasa yang halus, sehingga ketika membacanya kita akan merasakan betul bagaimana gerakan itu dirumuskan. Ia sampai mengingat masanya ketika aktif di LBH.

Ia juga menyampaikan bahwa gerakan mahasiswa di Makassar itu mengandung kritik keras terhadap teori Gramsci yang bilang ketika proses kapitalisasi memperkuat hegemoni, masyarakat tidak akan bisa apa-apa. Bagi Ari, itu semua tidak berlaku dan jelas berbeda dengan yang terjadi di Makassar. Kapitalisasi masih terus menguat dan terjadi di mana-mana, dan mahasiswa Makassar tetap terus berlawan.

Tapi, kenapa semua itu dapat terjadi? Dari semua perlawanan itu, apa yang sesungguhnya diinginkan mahasiswa? mereka terus melawan, lalu bahkan setelah tuntutan dan aksinya mencapai sasaran, mahasiswa tetap tidak mendapat apa-apa.

Ari mengatakan, bahwa setidaknya terdapat tiga gelombang gerakan massa. Pertama adalah ketika orang-orang mengalami deprivasi relatif. Dalam keadaan itu, terjadi ketegangan akibat kesenjangan antara ‘yang seharusnya terjadi’ dengan ‘yang kemudian terjadi’. Akibatnya, adalah tindak kekerasan yang didasarkan pada letupan emosi. Tetapi kemudian, toh, ketidakpuasan serupa jamak di masyarakat, lalu kenapa hanya segelintir orang yang turut aksi?

Gelombang kedua ialah yang terkait dengan latar belakang ekonomi. Aksi serupa ini merwarnai era tahun 70-an. Pada masa itu mereka yang turun ke jalan sesungguhnya menghitung untung rugi kegiatannya. Sederhananya, aksi-aksi yang ada cenderung mencari keuntungan material.

Lalu gelombang ketiga, adalah masa dimana nuansa pascastrukturalis begitu terasa. Orang-orang bergerak bukan atas dasar latar ekonomi, tetapi lebih ke arah identitas kebudayaan selain itu. Bagi Ari, tulisan Asri ini lekat dengan gelombang ketiga. Sebab mahasiswa telah menjadi simbol perlawanan terhadap negara dan kekuasaannya. Dan mereka, seperti telah disebutkan di atas, tidak mendapat apa-apa dari tiap-tiap perlawanan itu.

Hampir bertolak pada titik yang sama pula, pembedah buku, Sawedi Muhammad memulakan argumennya. Dalam pandangannya, terdapat dua paradigma gerakan sosial. Pertama, adalah gerakan sosial bentuk lama yang pro-violence, mengejar materi, didanai oleh parta-partai buruh, dan sifat gerakannya sangat sentralistik atau satu komando.

Gerakan semacam itu jamak dijumapi pada tahun 50-an. Kedua, adalah gerakan sosial bentuk baru yang lebih bersifat post-materialist. Gerakan tidak lagi soal materi, tetapi soal identitas, bukan lagi ke arah isu kesejahteraan buruh, tetapi lebih ke arah isu-isu ekologi, LGBT, dan berbagai jenis gaya hidup lainnya, gerakan semacam ini juga bersifat desentralistik.

Menurut Sawedi, buku Asri banyak mengutip Gramsci, seorang neo-marxist yang banyak berbicara soal hegemoni ketika kapitalis telah menggunakan negara. Itu semua dapat dilawan dengan counter hegemoni yang bersifat kultural. Dalam pada itulah, Sawedi menilai contoh budaya Makassar yang diangkat Asir, yakni A’jallo atau amuk yang dilakukan ketika harga diri seorang terluka, terlalu bercorak individu dan tidak begitu tepat untuk dijadikan cerminan cerminan dari aksi-aksi mahasiswa di Makassar.

Ada budaya lain yang menurutnya lebih tepat dijadikan rujukan, misalnya Siri’ dan Pacce, yang lebih menunjukkan solidaritas sosial dan gerakan massa. Penggunaan A’jallo malah tidak bersesuaian dengan konsep counter hegemoni yang ditawarkan Gramsci.

Sawedi juga menilai buku ini terlalu menganjurkan gerakan yang bersifat violence. Sawedi teringat ketika masih mahasiswa, di lorong-lorong, selasar, dan koridor kampus selalu digelar aksi mimbar bebas yang membahas soal politik dan segala yang dilarang oleh Kopkamtib-nya Suharto. Gerakan semacam itu tentu lebih bersifat counter hegemoni seperti yang dimaksud Gramsci. Yang dalam bahasa Sawedi dikatakan sebagai silent revolution.

Lebih jauh, kritikan terhadap buku ini adalah ketidaksetaraan perbandingan antara apa yang terjadi di Cordoba dengan di Makassar. Sebab, di Cordoba, isu yang terangkat lebih bersifat lokal, sedang mahasiswa Makassar umumnya bergerak menanggapi isu-isu nasional. Isu-isu lokal yang diangkat pun cenderung tidak menjadi penentu lantaran pengawalan yang nampaknya tidak berkelanjutan atau pun tidak menjadi gerakan besar yang melahirkan manifesto seperti di Cordoba.

Fiqri, mahasiswa HI yang menjadi pembicara memulai tanggapannya dengan menyampaikan  pandangannya tentang cara kerja kekuasaan. Baginya, walau konstelasi ekonomi politik cenderung sudah berubah hingga mempengaruhi narasi-narasi yang lahir di pendidikan tinggi soal revolusi industri 4.0 dan sebagainya, tetapi kekuasaan tetap bekerja dengan cara yang purba. Dan masyarakat sipil tetap saja menjadi korban kekerasan-kekerasan itu.

Fiqri mengingatkan bahwa selama ini yang ditolak mahasiswa adalah prinsip-prinsip neoliberalisme dalam pelaksanan pendidikan di universitas. Ia menjelaskan bahwa kapitalisme telah menyerap semua istilah-istilah ke dalam tubuhnya, termasuk di antaranya adalah istilah ‘otonomi’ dan ‘jaringan’. Dua kata yang begitu lekat dengan narasi yang digembar-gemborkan oleh birokrasi kampus dalam UUPT no. 12 Tahun 2012.

Dalam undang-undang itu memang terdapat kata otonomi yang secara serampangan diartikan menjadi otoritas kampus untuk menyelanggarakan pendidikan. Seharusnya, kata ‘otonomi’ tidak diterjemahkan sebagai pembolehan untuk menciptakan elit baru di dalam kampus, tetapi harus dipandang sebagai kesempatan civitas akademika –termasuk mahasiswa terlibat aktif dan proporsional dalam struktur dan proses pengambilan kebijakan di kampus.

Apa yang juga ditarik ke dalam kapitalisme adalah justfikasi moral yang memisahkan mana tindakan-tindakan baik dan buruk. Oleh karena itulah politik jalanan menjadi penting untuk menegaskan kembali posisi mahasiswa. “Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi tidaklah berdiri di ruang hampa,” kata Fiqri. Itu semua merupakan akumulasi sosial tentang beragam ketidakpuasan atas kontradiksi sosial, dalam konteks Makassar wujudnya adalah ketimpangan antara pembangunan dan kesenjangan struktural.

Bagi Fiqri, apa yang dikerjakan oleh Asri dan Ostaf sangat penting sebab aksi-aksi mahasiswa telah dinarasikan secara negatif oleh media arus utama. Selain itu, buku tersebut ditulis dengan gaya bahasa yang mengalir, terdapat beberapa metafor, yang membuat kita terpantik. Lebih dari itu, hal penting lain adalah kisah tentang irisan-irisan taktis elemen-elemen gerakan. “Sejarah perlawanan kita adalah sejarah tentang berjejaring,” katanya.

SESI DISKUSI; Salah satu peserta sedang menyampaikan pandangan mengenai gerakan mahasiswa di Makassar . Foto: Jude Al Ginger

Beberapa pertanyaan reflektif kemudian lahir dalam diskusi itu. Tuti seorang mahasiswa dari Universitas Pancasakti mengambil contoh atas apa yang terjadi di Chile, di mana mahasiswa bisa membangun basis gerakan yang kuat bahkan masuk ke dalam parlemen. Kekuatan mereka berhasil menggratiskan pendidikan buat segala jenjang. Tuti bertanya, jika kita, mahasiswa Indonesia ingin melakukan hal serupa, apakah yang mesti dipersiapkan terlebih dahulu?

Seorang Alumni UNM, mengenang bagaimana kerusuhan pada 2012 pecah di beberapa titik setelah di pintu 1 Unhas terjadi penjarahan tabung gas LPG oleh massa dalam aksi menolak kenaikan BBM. Baginya, kerusuhan tidak menjadi masalah, tetapi harus didasarkan pada pertimbangan matang dalam konsolidasi.

Lalu, pertanyaan terakhir, seperti yang menjadi pembuka tulisan ini. Ari, Mahasiswa UNM, mengatakan bahwa kita harus mengevaluasi lagi aksi-aksi massa di Makassar yang pesertanya lebih banyak bendera daripada manusia. Juga mengenai pengaruh media sosial dengan segala macam keviralannya yang seperti menggeser gerakan massa.

Pertanyaan dan pernyataan itu mendapat tanggapan dari masing-masing pembicara. Namun sengaja tidak dimasukkan dalam tulisan pendek ini agar pembaca budiman dapat meluangkan waktu berpikir, membaca, berdiskusi, lalu merumuskan gerakan-gerakan baru untuk terus melawan segala kesewenang-wenangan di sekitar kita. Acara bedah buku itu kemudian ditutup dengan satu puisi dari Tulus, selaku Master of Ceremony:

Negerimu

Di negerimu, para elit senang tampil melonglong di televisi, seperti capung dan cupang

Di negerimu, cukong-cukong bermunculan dari kolong rumahmu, saling menyonkong, berbondong-bondong –menggerogoti kehidupanmu

Di negerimu, ada bokong para pelancong yang datang menggungat kemerdekaan, menodongmu dengan moncongnya yang gosong

Di negerimu, para pendidik masih mengagung-agungkan metode belajar pedagogi, meski nyatanya kosong melompong

Di negerimu, ada mahasiswa dengan sombong, sadar ataupun tidak, menjelma pocong yang melompat, terikat, menghantui masyarakat di bawah bulan bulat yang sendu

Di negerimu, selalu ada mahasiswa yang mengaku gandrung akan keadilan, tetapi masih melanjutkan warisan-warisan usang tanpa mengusung nalar, untuk menyongsong masa depannya juga masa depan bangsamu yang semakin gersang

Di negerimu, jutaan masyarakat miskin kota dan kampung, compang-camping meneriakkan tolong, mencari keadilan yang terlempat seperti lontong basi di dalam gorong-gorong

Di negerimu, banyak pengangguran morat-marit, memohon-mohon mencari pekerjaan

Di negerimu, aku terasing, meraung di dalam ruang-ruang ilusimu

Negerimu semakin lucu-lucu.

 

Makassar, 26 Maret 2019

UKPM & UKMMenulis KMFIB-UH


Penulis: Fathul Kharimul Khair (Anggota UKM Menulis FIB Unhas)

Previous Penahanan SK Kepengurusan UKPM UH: Legal Opinion Atas Penyelewengan Kekuasaan WR III Unhas
Next Anjing Penjaga Malam

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.