Judul Film: Captain Fantastic
Sutradara: Matt Ross
Tanggal Rilis: 23 Januari 2016
Durasi: 118 menit
Negara: Amerika Serikat
Produksi: Entertainment ShivHans Pictures

Setiap film maupun karya dalam bentuk apapun punya pesan yang ingin ia sampaikan ketika tampil dan bercerita dihadapan penonton lewat berbagai bentuk konflik. Captain Fantastic berhasil menjadi sebuah film yang memiliki isi menarik “mengganggu” pikiran penonton, menyampaikan isu heartwarming dan kritis dalam bentuk petualangan yang fun, dan menampilkan kehidupan sosial yang santai tapi serius.

Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi para orang tua untuk menjaga, merawat dan mengajarkan anak-anaknya untuk bertahan hidup dan mengenal lebih jauh lingkungan yang ia tinggalinya saat ini. Apa yang orang tua berikan untuk anaknya semata-mata hanya untuk menjadikan anak lebih baik hidupnya dimasa depan dibandingkan dengan dirinya. Sebagai anak pun, seharusnya bisa saling menghargai dan memahami satu sama lain untuk menjaga keharmonisan dalam keluarga tersebut. Film Captain Fantastic ini mengangkat tema kekeluargaan yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan dan ini sangat bagus menjadikan bahan pengajaran bagi kita semua dan film ini juga akan membuka sudut pandang yang berbeda dalam mempersepsi dunia. Tak lupa film ini juga memberikan banyak pengajaran bagi kita semua untuk memahami sebab konflik yang biasa terjadi dikehidupan sehari-hari.

Bercerita tentang satu keluarga, yaitu seorang ayah bernama Ben dan enam orang anak (Bodevan, Kielyr, Vespyr, Rellian, Zaja and Nai) yang sengaja hidup dengan mengisolasi diri dari dunia luar dan memilih hidup di hutan pedalaman pasifik, meninggalkan hingar bingar kota. Ben mendidik anak-anaknya dengan sistem Home Schooling dan mendidik anak-anaknya bagaimana cara bertahan hidup dengan cara alami seperti berburu hewan, menanam tanaman sendiri, berolahraga bersama di pagi hari, dan belajar di malam hari. Ben dan sang istri, Leslie secara sadar melakukan hal itu karena bagi mereka dunia luar tidak ramah bagi perkembangan anak. Namun istri Ben dalam film ini tidak pernah dinampakkan, hanya dikisahkan dia meninggal akibat gangguan jiwa yang di deritanya.

Film ini banyak menyuguhkan narasi-narasi sosialisme dengan sangat baik. Tokoh yang diangkat adalah pemikiran Noam Chomsky, tokoh Sosialisme Libertarian. Tergambar secara nyata ada adegan khusus di mana keluarga Ben beserta anak-anaknya memperingati hari kelahiran Chomsky dengan cara “Pembebasan Makanan”, yaitu dengan mencuri makanan dari super market sebagai lambang kapitalisme, meskipun di akhir cerita Ben menyadari bahwa tradisi mencurinya itu salah. Ben sangat gigih mempertahankan nilai-nilai yang dianutnya dalam mendidik anak meskipun kemudian ia harus menyadari bahwa cara mendidiknya tidak tepat. Ayah mertua Ben sangat membenci dan menyalahkan Ben karena menjauhkan dunia dari cucunya. Salah satu konflik di film ini yaitu pertentangan nilai-nilai sosialisme yang dianut oleh Ben dan kapitalisme yang dianut oleh mertua dan keluarganya. Ada banyak nilai-nilai dan doktrin sosialisme diungkapkan dalam film ini. Sangat bagus bagi orang yang mau berpikir kritis.

Alur cerita film ini mengalir dengan sangat apik. Diperankan oleh bintang utama Vigo Mortensen yang berakting sangat bagus, dengan memerankan sosok ayah yang mengajarkan banyak hal kepada enam anaknya. Ke-enam anaknya bisa dikatakan cerdas namun kecerdasannya hanya berupa teori dan tidak dapat diaplikasikan secara kehidupan nyata. Film keluarga ini menggambarkan tentang bagaimana seorang suami mengekspresikan cinta terhadap istrinya meskipun ia sudah tiada dan tentang bagaimana mendidik anak serta tentang bagaimana hidup dengan nilai-nilai dan prinsip.

Film ini pun sangat sarat akan pendidikan, pendidikan dalam arti sebenarnya. Meskipun keenam anak Ben dididik dengan home schooling, tetapi bisa mengalahkan hasil pendidikan formal. Dampak dari home schooling dan hidup dengan keterasingan dari dunia luar adalah gagap ketika harus bertemu dengan peradaban lain. Ben yang dianggap tidak becus mengurus anak berusaha untuk membawa keenam anaknya mengenal dunia.Adegan tentang hal ini sangat lucu, banyak yang membuat kita tertawa, seperti di saat disajikan adegan ketika anak-anak Ben berinteraksi dengan dunia luar yang sangat kapitalis dan modern, jadi bisa dibayangkan seperti Tarzan masuk kota.

Menurut saya, film ini sangat menjadi rekomendasi film terkeren yang sangat bagus dan layak ditonton bagi mereka yang menyukai film tentang pendidikan, keluarga, cinta, filosofis, dan kaya akan nilai-nilai universal dalam kehidupan. Banyak pembelajaran yang terkandung dalam film ini, hal tersebut tentunya dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita. Pencapaian film ini terbilang sangat luar biasa. Hal ini ditandai dengan banyak nya penghargaan yang telah dikantongi oleh film yang di sutradarai oleh Matt Ross ini, seperti pemenang di Cannes Film Festival, Deauville Film Festival, Melbourne International Film Festival, Palm Springs International Film Festival, dan di festival film lainnya.(npy)

Previous KAMERAD: Rapat Dengar Pendapat Berbuah Janji Kembali
Next Rusa Lepas Lagi, Pengelolaan Penangkaran Buruk Dari Kampus

232 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *