Judul : Perempuan dalam Perspektif Jurnalis

Penulis : Ridwan Marzuki, Asri Abdullah, dkk.

Penerbit : Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar

Cetakan : Pertama, Tahun 2014

Tebal : 104 halaman

Perempuan di Indonesia mengalami transformasi yang lambat dibandingkan di negara maju lain. Meskipun era-Kartini sudah ada jauh dalam sejarah kemerdekaan bangsa ini, namun semangatnya baru-baru dirasakan pasca-reformasi. Sebagai sebuah proses, tentunya dia tidak pernah berhenti. Perjuangan perempuan dalam menutut emansipasi dan gender terus dilakukan, tapi dilain sisi kekerasan dan kejahatan terhadap perempuan makin menjadi-jadi.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) sebagai penerbit buku ini merupakan organisasi non pemerintah yang memiliki focus dalam pemantauan dan konseling berbagai masalah dalam kerja jurnalistik. Dalam mengemban tugas tersebut, AJI Makassar bekerja sama dengan Development and Peace memandang perlunya kajian khusus tentang isu perempuan dalam pengamatan jurnalis.

Berlandaskan kondisi factual di lapangan melihat bagaimana perempuan mengalami berbagai masalah di tengah kerasnya bertahan hidup, perempuan kekinian terus bergerak untuk mampu membuktikan eksistensinya secara positif. Buku ini muncul untuk megukur pergerakan dan peran perempuan melalui eksistensinya di media lokal maupun nasional.

Jika meliahat dari sudut pandang Jurnalisme, buku ini dapat digolongkan sebagai laporan hasil investigasi media. Namun, yang menjadi menarik dalam buku ini sebab penulis mengemasnya dalam sebuah cerita pendek dengan kata-kata inajiner dimana kaya dengan informasi dan data dan tanpa menghilangkan kesan realistisnya. Hal ini membuat pembaca merasa melihat langsung proses investigasi yang dilakukan jurnalis.

Selain itu, wacana dan sudut pandang yang beragam dalam setiap cerita-ceritanya memberikan pengetahuan baru tentang bagaimana kondisi perempuan dalam menjalani kehidupan diberbagai sector mulai dari pendidikan hingga politik, perempuan dalam belenggu adat dan agama, bahkan perilaku sosial sampai hubungan intim. Ditambah pula dengan keluh kesah perempuan dalam melakoni kehidupan sehari-harinya.

Potret realita keseharian perempuan coba disingkronkan dengan apa yang terekspose dimedia. Masalah ekonomi hingga kekerasan dalam rumah tangga dan seksual menjadi sorotan berbagai media guna menberitahukan kepada halayak bahwa kesetaraan yang diagung-agungkan Kartini belum tercapai. Media juga mulai menyoroti peran perempuan dalam sektor pendidikan dan politik sebagai perjuangan mereka menyadarkan dan menutut hak tersebut meskipun masih minim ditengah besarnya kekuasan pria.

Buku ini bisa menjadi evaluasi kritik-auto-kritik bagi semua orang, khusunya perempuan Indonesia untuk terus bergerak dan tidak terlena dengan dunia yang palsu ini. Sudah tidak bisa lagi perempuan untuk takut bersuara bahkan hingga menagis darah untuk memperjuangkan kesetaraan.

Semoga bermanfaat…(ant)

Previous Diskusi Pelataran Rektorat, Tanpa Rektor
Next Suffragette, Kebangkitan Feminisme London

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.