Photo: Mustafa Ostafal Taffa. Illustrator: Oshinsky El Challul.

Oleh : Mustafa Ostafal Taffa

Ada waktu tertentu peziarah dari kota Botem pergi ke suatu zona yang belum terpetakan. Zona itu berada di suatu lembah yang dilindungi oleh jurang yang dalam. Zona itu memiliki empat perimeter yang harus dilewati seorang peziarah. Pada perimeter yang berpintu di area empat, tiga, dan satu, peziarah masih kembali lagi setelah melakukan perjalanan dunia paralel selama beberapa tahun.

Hanya ada satu pintu masuk, yang tak seorang pun yang tahu, kecuali hanya oleh setiap peziarah yang terpilih. Apapun yang terjadi pada peziarah hanya diketahui melalui surat yang dibaca dari dalam mimpi. Tiap surat dari peziarah, bisa dibaca dalam suatu waktu mimpi kolektif. ‘Perimeter pintu satu’ menjadi pintu terakhir dari zona tersebut. Siapapun yang berada disini tak pernah kembali lagi dan itu berarti ia lolos masuk ke zona tak terpetakan.

Siapapun peziarah yang kembali, tak pernah berubah secara fisik mulai dari pakaian hingga seluruh bagian tubuhnya. Ia yang kembali, nyaris persis seperti saat kepergiannya. Memang ada perubahan tambahan seperti segi kualitas bobot pikiran dan daya spiritual yang melampaui dari titik ilmu saat memasuki gerbang portal perpindahan. Peziarah yang kembali pasti akan memberikan amanat petuah yang belum sempat dipikirkan para warga di kota itu.

Enam tahun setelah kepergian seorang peziarah, para warga membuat totem mimetik[1] yang “nampak hidup” dan bisa bergerak ritmis. Totem itu disebut robotem. Robotem dibuat sebagai mimetik dari diri peziarah, mulai dari perawakan tubuh maupun pakaian yang dikenakannya.

Istilah totem, mungkin saja tak tepat, tapi hanya itu istilah yang tersedia di indeks beberapa buku hasil penelitian. Sejumlah anak-anak dari generasi milenial[2] menyebut totem sebagai humamic (human mimetic), yang diartikan sebagai tiruan manusia. Istilah yang sempat viral, tapi tak pernah masuk dalam pikiran para antropolog dan sosiolog, dan belum masuk dalam bausastra.

Robotem inilah yang mengingatkan secara tiga dimensi pada ia atau mereka yang menjadi peziarah. Para warga memperlakukan robotem sebagai kenangan untuk peziarah yang pergi. Kenangan tiga dimensi itu tak pernah menjadi suatu sesembahan seperti Tuhan, media roh leluhur, atau dewa. Bila mereka memberikan bunga, makanan, dan menjagal hewan di dekat robotem, hanyalah untuk mereproduksi suatu kenangan saat masih bersama-sama. Begitulah realitas yang terjadi, hingga akhirnya muncul seorang ilmuwan yang menyebut dirinya antropolog. Orang inilah yang membuat fiksi akademis tentang semua hal di kota Botem.

Robotem itu apa maksudnya?” Tanya antropolog dengan keinginan-tahuan yang paling standar.

“Ia menjadi album tiga dimensi untuk mengenang orang tua, kerabat, dan kawan kami yang pergi berziarah.”

“Mengapa tidak dibuat kenangan pada peziarah dalam bentuk foto digital atau film dokumenter?”

Robotem berisi semua informasi orang-orang yang kami cintai sejak kelahirannya dan juga kepergiannya. Foto digital dan film dokumenter hanya untuk mengenang sesuatu yang biasa-biasa saja. Tentu saja para peziarah itu juga dikenang dalam album digital kami dan sesekali disebar di media sosial.”

Bukan hanya bentuk percakapan sederhana seperti itu yang dilakukan antropolog dalam mengungkap keinginan-tahuan ilmiahnya. Ia dan sejumlah orang yang seperti dirinya juga mulai membuat cerita-cerita palsu tentang robotem. Robotem disebutkan sebagai media penyembahan paganisme dewa, tuhan, roh leluhur, dan kekuatan supranatural lainnya. Para antropolog telah menjadikan robotem dan segala aspek kehidupan di kota Botem dikeliru-pahami secara akademis di perguruan tinggi. Galat pemahaman itu sangat sistematis dan berstruktur, hingga bisa dipelajari sampai di tingkat master dan doktoral. Selain para peneliti, para turis mulai pula berdatangan menyaksikan eksotisme botem. Botem istilah baru yang berbentuk singkatan dari robotem, yang lahir dari kemalasan para turis berpikir saat liburan. Antropolog menyebutkan eksotisme itu sebagai kultur animisme dan dinamisme robotem digital.

Enam tahun berlalu sejak pembuatan robotem terakhir. Di enam tahun itu, para warga bersiap menyambut kembalinya sang peziarah terakhir. Repetisi yang selalu terjadi, meski tak pernah ada suatu badan, departemen, atau komisi yang dibentuk resmi. Bila ia yang lama tak lagi kembali, itu berarti akan ada kandidat pelawat baru yang akan pergi. Selalu ada siklus pemunculan dan tampilnya sosok penyadran yang berbeda . Namun dalam masa penantian terpilihnya kandidat yang dimaksud, tak pernah lagi para warga menerima isyarat akan terpilihnya salah seorang petandang baru.

Para warga masih saja menunggu kedatangan peziarah terakhir, ketika di televisi juga video streaming muncul pengumuman pemerintah pusat untuk mencanangkan turisme berbasis indigenous knowledge[3]. Seminggu setelah pengumuman itu presiden, wakil presiden, beberapa menteri, sejumlah anggota DPR, dan pejabat pemda mengunjungi kota Botem. Mereka semua berpakaian dalam model busana robotem. Di antara mereka muncul juga sang antropolog. Mungkin antropolog itulah yang bersekongkol dengan perancang busana untuk membuatkan pakaian para pejabat negara itu seperti para robotem. Para warga pun menyambut mereka persis seperti kedatangan peziarah yang kembali. Acara penyambutan peziarah telah diambil alih oleh kepentingan penguasa.

Ketika para pelancong negara itu sudah pulang bersama antropolog. Tidak tersisa orang luar, kecuali seseorang yang tertinggal, teralienasi tanpa sapaan. Ia berada di garasi robotem yang terakhir. Mungkin ia hanyalah turis yang  memperpanjang waktu kunjungan wisata. Mungkin juga ia seorang antropolog baru yang masih melakukan penelitian untuk memproduksi fiksi teori akademis lainnya. Tidak ada yang tahu atau yang mau ambil pusing.

“Maaf aku terlambat datang! Seharusnya aku kembali pekan lalu ke arah barat, tapi kuputuskan untuk menunggu adanya para turis itu, lalu bergabung dengan mereka.” Ujar orang ini, ketika ada yang memerhatikannnya. Ia tak ditanya, tapi berusaha membuat jawaban. Meski ucapannya menyebut arah barat, ia justru menunjuk ke arah utara. Ia sempat menggelar peta perjalanan, tapi jarum kompas tak menetap di satu arah mana saja.

Orang ini berbeda dengan semua rombongan turis, karena sengaja tak pulang dengan mereka. Para warga seharusnya mengenalinya, tapi kedatangan para turis membuat mereka terlupa atau abai pada peziarah yang telah ditunggu-tunggu. Enam tahun hanya waktu singkat, untuk mengenali seseorang yang telah bepergian jauh. Tapi wisata kultural telah membuat warga lebih ingat harga dari para turis yang menghambur uang daripada siapa yang kembali tanpa transaksi.

Ia yang entah siapa itu, kemudian memberikan amanat tentang apa yang harus dilaksanakan. Amar yang ia ucapkan itu menjadi suatu perkataan yang seakan tak pernah didengar sebelumnya atau memang konten pendengaran mereka tak pernah diarsipkan. Pada momentum sunyi dari para wisatawan, suaranya terdengar paling bergaung.

“Mulai saat ini sejumlah tradisi di kota ini harus dirombak total. Pembuatan robotem, totem, dan patung jangan lagi mengambil model dari seorang pun peziarah. Robotem, totem, dan patung harus mengambil model dari para turis itu sendiri.”

“Apakah tak ada lagi peziarah yang harus dikenang?” Ada yang terusik dari penantian yang tak berwaktu.

“Kenanglah para peziarah, tapi rahasiakan apapun tentang robotem, totem, dan patung peziarah. Sembunyikan semuanya dari pandangan para turis, aparat pemerintah, wakil rakyat, dan antropolog. Jangan mengkomersialkan kearifan kita demi valuta asing, investasi, pembangunanisme, globalisasi, komersialiasasi budaya, dan penambahan kekayaan materi. Kearifan akan lebih banyak menjadi tontonan, jika telah menjadi paket turisme. Jangan sampai kearifan kita dinegarakan oleh departemen kebudayaan dan pariwisata!”. Ia menyebut dirinya sebagai ‘kita’, berusaha menunjukkan dirinya yang entah siapa sebagai bagian dari simbiosis warga di kota itu.

“Lalu apa yang harus kami lakukan?”

“Buat saja para robotem, totem, dan patung dengan model presiden, wakil presiden, politikus, pengamat, anggota parlemen, atau siapapun yang hanya datang kesini demi tujuan penikmatan tontonan sebagai turis.”

Tak ada yang menggangguk untuk seketika menuruti perkataannya. Namun daripada mereka cuma membuat model totem yang sama sebagai karya langka yang komersil. Toh, idenya bagus diterapkan. Suatu ketika pasti akan terjual, karena sosok-sosok yang ia sebut bisa berganti setiap lima tahun dalam pemilu. Barang jualan paling laku adalah bualan mereka yang bersaing untuk berkuasa.

Sejak saat itu, semua bentuk karya seni hanya mengambil model para turis itu musiman tersebut. Sejumlah elemen mahasiswa juga sering datang kesana untuk belajar membuat robotem, totem, dan patung. Mereka membuatnya untuk dibakar bersama ban bekas di halaman gedung DPR. Sebagian lainnya diciptakan sebagai properti demonstrasi anti-koruptor untuk diinjak, dilempari tomat busuk, maupun diarak keliling kota.

 

Robotem presiden Amerika Serikat, menjadi salah satu favorit mahasiswa untuk dibakar. George Helbert Walker Bush dan George Walker Bush menjadi salah satu model robotem yang pernah dibakar pada tahun-tahun kemarahan, sambil menginjak bendera negara Yahudi. Kadang robotem presiden di negara itu dimasukkan ke selokan. Entah pesan apa yang bisa muncul dari bau comberan.

Robotem favorit lainnya yang sering dibakar yakni yang berasal dari model wajah para koruptor paralel. Korupsi sering dilakukan secara kolateral, karena pelakunya telah bersekongkol dengan keluarga, rekan kerja, pengacara, polisi, jaksa, dan hakim. Projek korupsi juga sebanjar, karena dilakukan dalam dimensi pemerintahan, institusi proksi agama, penegak hukum, dan pendidikan. Mahasiswa melawan extra-ordinary crime[4] korupsi dengan simbol pembakaran robotem koruptor.

Sekarang segala apapun tentang sosok lama peziarah telah disembunyikan dengan sangat rapi. Antropolog, jurnalis, hingga aparat negara tak pernah diberitahu sedikit pun tentang aktivitas bakal calon peziarah yang baru. Sebaliknya elemen-elemen mahasiswa yang kritis dan radikal, secara simbolis telah dinobatkan sebagai parapeziarah[5] yang kembali. Parapeziarah ala mahasiswa ini tentu tidak lagi sebagai perseorangan yang datang secara berkala dari ‘Perimeter Pintu (PP) Satu’ tapi dari pintu satu setengah. Tak ada yang tahu pasti di bagian mana portal masuk yang disebut ‘setengah’. Ada juga yang menyebut sebagai PP 2.0 atau PP 20, menyetarakan dengan istilah era demokratisasi sekarang yang sudah berada tahap 2.0 atau D.20[6]

Mahasiswa menjadi substitusi alternatif dari setiap individu peziarah yang berkearifan. Kabar aktivitas sosok jamak peziarah yang diduga sudah berpulang ke habitat lama, tak hanya bisa dibaca melalui surat dalam mimpi dan kabar ultra-teleportasi. Warga kota Botem juga bisa membacanya dari koran pers mahasiswa, breaking news, alert news, stop press, cyber-news, e-mail, erobotemail, e-totemail, miniblog dan sebagainya. Pengabaran itu selalu terkini dan tak perlu menunggu enam tahun untuk mengetahui kabar terakhir dari ia yang dinanti.


Catatan Kaki :

[1] Totem merupakan relasi sosial yang mengekspresikan kepercayaan bahwa terdapat hubungan antara sekelompok orang di satu sisi dengan binatang dan tanaman terterntu di sisi lainnya. Mimetik berasal dari Bahasa Yunani ‘mimesis’, yang berarti imitisi/tiruan, yang sepatutnya dipahami sebagai re-presentation (menghadirkan kembali) dan daripada sekedar disebut sebagai copying (penggandaan dari versi aslinya).

[2] Generasi ini sudah berkutat pada liberalisi politik dan ekonomi, yang sangat tidak membutuhkan campur tangan pemerintah. Generasi tersebut dikenal sebagai Gen-Y, sebagai kelompok demografi setelah Gen-X. Mereka generasi dari kelahiran awal 1980-an hingga awal 2000-an. Mereka keturunan dari generasi Baby Boomers (lahir tahun 1946 hingga 1964, generasi pasca PD II) dan Gen-X (lahir antara tahun 1961 dan 1981, versi National Geographic).

[3] Pengetahuan orisinal dari masyarakat tempatan, yang belum tergerus oleh budaya lain. Sebagai perbandingan yakni sebutan indegenous language yang berarti bahasa yang digunakan masyarakat setempat yang menghuni sebuah negeri, contoh Bahasa Hawai dan Indian di Amerika juga Bahasa Aborigin di Australia (lihat : Jack C. Richards and Richard Schmidt, Longman Dictionary of  Language Teaching and Applied Linguistics, Fourth edition, 2010: 277)

[4] Tingkat kejahatan yang luar biasa efeknya karena dilakukan sistematis, justru dari pihak penyelenggara negara maupun yang berkaitan dengan mereka. Tingkat keluar biasaan itu terjadi karena pelakunya masih mendapat layanan istimewa, bahkan masih bisa dipilih dalam pemilu, atau malah terpilih oleh kebodohan para pencoblos di bilik suara.

[5] Sebutan parapeziarah, menunjukkan adanya hal unik yang berbeda dengan peziarah yang normal datang dan pergi setiap enam tahun. Bandingkan istilah para dalam sebutan paralegal, atau pasukan khusus dalam dunia militer.

[6] Demokrasi di era yang terdigitalisasi, yang memunculkan media baru (media sosial).

____________________

Penulis merupakan Jebolan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa UNHAS.    

Previous “Merespon SK Rektor, Jalur Litigasi atau Non-Litigasi?
Next Pemungutan Dana Pengembangan di UNHAS: Manifestasi Universitas Neoliberal

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *