catatankaki.info – “Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun”, teriak lantang jenderal lapangan di tengah kepulan asap pembakaran keranda mayat yang tergeletak di depan gedung Rektorat, Kamis (20/09).

Kalimat lantang diucapkan bukan karena salah satu pejabat rektorat ataupun civitas akademika  berpulang ke Rahmatullah, melainkan lafadz kematian organisasi mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) saat ini dengan diberlakukannya Peraturan Rektor tentang Organisasi Mahasiswa (PR Ormawa).

Dua massa aksi tengah membaca puisi. Foto : Jude al Ginger

Resah dengan pengesahan PR Ormawa, Unit Kegiatan Pers Mahasiswa dan Teater Kampus Unhas melakukan aksi teatrikal sebagai bentuk penolakan PR Ormawa.

Teatrikal menampilkan seorang mahasiswa yang menolak kebijakan kampus (dalam hal ini PR Ormawa) yang diikat kemudian dimasukkan ke keranda mayat. Sembari menangis, mahasiswa tersebut diarak keliling oleh keempat Wakil Rektor Unhas berwajah bengis yang diperankan oleh empat mahasiswa lainnya.

Teatrikal menampilkan seorang mahasiswa yang menolak kebijakan kampus namun suaranya diredam oleh pihak birokrat. Keranda mayat menjadi simbol atas matinya lembaga mahasiswa dan apa yang diperjuangkannya. Tak terima dengan PR Ormawa, keranda mayat dibakar habis oleh massa aksi sebagai simbol penolakan yang terus berlanjut.

Keranda mayat sisa pembakaran. Foto : Jude al Ginger

Aksi ini merupakan rentetan dari langkah-langkah penolakan yang dilakukan lembaga kemahasiswaan sebelumnya. Diskusi, konsolidasi dan terakhir dilakukan parade satir atas penolakan PR Ormawa.

Peraturan Rektor No. 1831/UN4.1./KEP/2018 tentang Organisasi Mahasiswa oleh massa aksi dianggap telah cacat prosedur dan akan berujung pada penundukan lembaga mahasiswa. Mahasiswa tidak dilibatkan dalam proses perumusan peraturan, padahal peraturan berkaitan langsung dengan mahasiswa.

“PR Ormawa ini diberlakukan begitu saja, tanpa pertimbangan mahasiswa. Kita mahasiswa tidak dilibatkan dalam pembuatan peraturan tersebut, padahal mahasiswa yang notabenenya akan menjalankan lembaga itu sendiri,” Ungkap Don selaku Jenlap saat Rektor Unhas, Dwia Aries Tina Pulubuhu keluar untuk berdialog dengan massa aksi.

Rektor Unhas, Dwia Aries Tina Pulubuhu menemui massa aksi. Foto : Jude al Ginger

“Siapa bilang nggak pernah dilibatkan? nanti kita duduk bersama. Yang kamu bilang tidak pernah dilibatkan dimana? Jadi jangan sampai asumsi, prasangka,” sanggah Dwia atas pertanyaan massa aksi.

Lebih lanjut Dwia mengatakan, ia menjanjikan kepada massa aksi untuk membuka forum, bersama Rektor dan Wakil Rektor bidang Kemahasiswa dan Alumni untuk membahas lebih jauh tuntutan massa aksi.

Pernyataan ini langsung dibalas oleh beberapa massa aksi yang mengaku kecewa atas janji pihak rektorat. Menurutnya, pihak rektorat telah menjanjikan forum pertemuan namun selalu diingkari oleh pihak rektorat sendiri.

Penulis : Yuliana, Ita

Editor : Farhan

Previous Menjelang Hari Tani, Mahasiswa Unhas Gelar Diskusi Darurat Agraria
Next Memperingati Hari Tani ke 58, Mahasiswa Lakukan Kampanye Penyadaran

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *