Judul Film                   : Kamis ke-300
Penulis Naskah            : Putu Wijaya
Sutradara                     : Happy SalmaP
Produksi                      : Titi Mangsa Foundation 2013
Pemain                        : Amoroso Katamsi, Aji Santosa, Sita Nursanti, Nugie
Durasi                         : 13 menit

 

Film ini berangkat dari aksi rutin setiap hari Kamis didepan istana untuk mendesak negara menuntaskan kasus pelanggaran HAM.  Mulai dari penghilangan paksa, kerusuhan 98, Semanggi 1 & 2 yang telah menelan korban beberapa mahasiswa dalam aksi menurunkan rezim orde baru. Para aktivis pegiat HAM juga menjadi korban represifitas negara. Darah Munir dan Marsinah menjadi tumbal dalam melanggengkan kekuasaan.

Film yang di sutradarai Happy Salma, salah satu fublik figur (artis) Indonesia. Film yang menceritakan tentang aksi yang rutin dilakukan oleh ibu-ibu keluarga korban penghilangan paksa dan korban pelanggaran HAM, yang dilakukan oleh negara dan sampai hari ini belum diselesaikan, serta mengalami kemandekan dalam proses hukumnya.

Film berdurasi 13 menit itu menceritakan seorang anak kecil bernama Markus bersama kakeknya. Kakek Markus menderita sakit stroke sekaligus telah pikun sehingga harus terbaring ditempat tidur. Dikala terbaring sakit, yang sang kakek ingat hanya satu, yaitu ia harus berdiri didepan istana negara menuntut keadilan dengan orasi, sebagaimana yang ia lakukan sejak masih muda.

Kakek itu pun terus berpidato di tempat tidurnya. Orasi tersebut ia ajarkan kepada Markus, cucunya, yang kemudian menularkan teriakan tersebut kepada teman temannya. “aparicion con vida!. Lepaskan mereka hidup hidup!”. Demikian diteriakkan dalam orasi sang kakek, seperti diteriakkan orang-orang Argentina yang menuntut keadilan pemerintah dari tragedi HAM. Akhirnya, sang kakek menutup mata usai meneriakan orasi terakhirnya.

Gerakan Kamisan itu sendiri adalah aksi yang dilakukan keluarga korban penculikan yang berdiri selama 1 jam di depan istana negara dengan mengenakan baju dan payung hitam yang bertuliskan kasus-kasus pelanggaran HAM dimasa lalu. Mereka menuntut keluarga mereka dikembalikan hidup-hidup.

Film ini mengambarkan bagaimana perjuagan keluarga korban dan para pegiat HAM . Mereka yang tidak henti-hentinya menyuarakan tuntutan pengembalian keluarga yang dihilangkan secara paksa dan korban kekejaman rezim penguasan pada saat itu

Sekiranya film ini dapat menjadi pembakar api semangat baru, buat kita semua untuk tidak apolitis dalam membicarakan HAM. Kalau dalam film “Kamis ke 300” ibu-ibu keluarga korban menyuarakan tuntutan penyelesaian kasus HAM, berdiri di depan istana negara dengan memakai baju hitam menggunakan payung yang bertuliskan tuntutannya. Kenapa kita tidak bisa melakukan hal seperti itu dengan cara lain yang lebih menarik ketimbang hanya menjadi penonton dan komentator yang baik.

Saya rasa film ini tidak hanya menjadi obat penyemangat buat ibu-ibu keluarga korban saja. Melampaui itu ada pesan lain yang ingin disampaikan. Maka dari itu untuk mengetahuinya anda perlu menontonnya. Biar anda tahu sendiri maksud dan tujuan dari film ini dan mengartikannya sendiri.

Mari Menonton….

Penulis: Don Fahmi

Editor: Uk Marco

Previous Masuk Kolam Unhas Mesti Ber-uang
Next Penggelapan Uang BPJS Cleaning Service Unhas

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *