Resensi Film Asterix, Mansion Of The God

Oleh: Petunia

Rencana homogenisasi, yakni penyamaan berbagai kebudayaan oleh kaisar Romawi hanyalah langkah awal dari rencana besar kapitalisme global untuk memenuhi kepentingan pasar. Dengan penaklukan budaya maka kepentingan yang lain – ekonomi akan mengikuti.

Bilm animasi bergenre komedi ‘Asterix, Mansion of the God’ ini akan mengantar penonton tertawa melalui lawakan teks dan tindakan konyol dari tiap karakter. Walaupun dibalut dengan komedi, film ini justru berhasil mengisahkan bagaimana invasi kapitalisme global dan upaya merecoki masyarakat dengan budaya konsumerisme.

Film ini mengangkat latar belakang cerita dari pertikaian bangsa Galia dan Romawi di sekitar tahun 50 SM. Awal film dimulai dengan kekesalan Julius Caesar kepada para senator yang selalu gagal menaklukkan wilayah Armorica, sebuah desa tenang tempat tinggal bangsa Galia. Julius sadar, tentaranya tidak bisa menaklukkan bangsa Galia yang terkenal kuat dengan ramuan ajaibnya.

Karenanya, Julius berencana melakukannya dengan cara halus yakni dengan invasi budaya Romawi. Untuk melakukan itu, sang kaisar membangun kota baru Romawi yang dinamainya sebagai Kota Dewa-Dewa dengan mengelilingi desa bangsa Galia, sehingga mau tidak mau bangsa Galia dipaksa ikut beradaptasi dengan budaya baru atau konsekuensi lainnya – punah.

Tentunya rencana ini ditolak oleh Asterix dan bangsa Galia lainnya, tetapi ketika penduduk Romawi mulai dekat dengan bangsa Galia, sedikit demi sedikit budaya mereka mulai terpengaruh. Bangsa Galia mulai mengikuti gaya hidup mewah Romawi, seperti dengan berpakaian ala penduduk Romawi dan budaya konsumerisme-nya.

Konsep penaklukan kolonialisme yang telah usang beralih dengan penaklukan budaya dan ekonomi pasca perang dingin. Rencana homogenisasi, yakni penyamaan berbagai kebudayaan oleh kaisar Romawi hanyalah langkah awal dari rencana besar kapitalisme global untuk memenuhi kepentingan pasar. Dengan penaklukan budaya maka kepentingan yang lain – ekonomi akan mengikuti.

Lihat saja bagaimana negara-negara ketiga dan keempat yang terkena dampak paling besar dari globalisasi kebudayaan. Iran, Venezuela, Vietnam, Indonesia dan sebagian besar negara di Afrika dan Amerika Latin mesti tunduk pada kapitalisme global atau pasar bebas pasca kebudayaan mereka dipengaruhi.

Bangsa Galia yang terpengaruh untuk menjadi masyarakat konsumen merepresentasikan apa yang dilakukan kapitalisme global. Perkembangan kapitalisme global membutuhkan adanya masyarakat konsumen yang akan melahap semua produk kapitalisme tersebut. Dengan mengkonsumsi berbagai tanda dari iklan, masyarakat diubahnya menjadi budak atas sebuah produk. Tapi sekali lagi, isu yang serius dalam film ini tetap akan mengantar kita untuk “tertawa” dengan kondisi realitas masyarakat.

***

Disisi lain, sang sutradara Alexandre Astier dan Louis Clichy juga ingin menyampaikan bagaimana kekuatan massa bekerja sebagai metode yang efektif dalam melakukan perlawanan.

Berseberangan dengan musuh Asterix, para tentara Romawi dan para budak mereka mesti diberi dua jempol. Tentara dan budak telah memahami bahwa komandan dan tuan mereka tidak akan berkutik dengan kekuatan massa yang mereka miliki.

Perlawanan pertama dimulai saat Travaillerpluspousgagnerplus (percayalah, itu nama karakter) kepala budak dan teman-temannya diberi ramuan ajaib oleh Asterix, setelah menghajar komandan, para budak memaksanya untuk memenuhi tuntutan para budak mulai dari kenaikan upah, waktu istirahat, jatah makan dan kebebasan.

Komandan yang sudah babak belur hanya mengatakan “cukup adil untukku”  tanda ia setuju dengan tuntutan. Pemberontakan seperti ini juga dilakukan para tentara Romawi terhadap Komandan, kekuasan sang Komandan sama sekali tidak berkutik jika para tentara tidak menyetujui rencananya secara mufakat.

Pada akhirnya, film ini akan mengantar penonton tertawa sinis, tertawa akan kekonyolan tiap karakter dan sedikit membuka hidung kita untuk mengendus tiap upaya invasi dari kapitalisme.

Editor: Uk Marco

Previous Karena (Status) PTN-BH, Anak Yatim Tidak Dapat Belajar Di Unhas
Next Tak Ada Jaminan Kesehatan, Pengawas Cleaning Service Meninggal Dunia di Rumah Sakit

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *