Oleh : Prometheus Fun Lady

International Woman Day!! Apa yang harus perempuan tunjukan di hari perempuan internasional? Apa yang harus perempuan miliki untuk merebut dirinya ditengah beringasnya apapun? Apa yang harus perempuan lakukan dengan stigma negatif yang diletakkan diseluruh lekuk dan tubuhnya?

Hari perempuan internasional berarti merayakan semangat keterlibatan perempuan dalam segala aspek termasuk aspek politik dan sosial. Pasca 1900 peringatan hari perempuan internasional diisi dengan berbagai kampanye kreatif, aksi jalanan, diskusi, dan konferensi.

Dalam beberapa referensi menuliskan pada 28 Februari 1908 sekitar belasan ribu perempuan berunjuk rasa menuntut hak suara, pemangkasan jam kerja, dan upah  di sepanjang jalan New York, Amerika Serikat. Setahun kemudian, perempuan Amerika Serikat kembali menenuhi jalan sesuai deklarasi partai sosialis Amerika. Clara Zetkin yang tergabung dalam lingkaran partai sosialis demokrat tahun 1910 di Jerman menyarankan setiap negara merayakan hari ini dan ratusan perempuan dari 17 negara pada konferensi menyepakati Zetkin, terbentuklah hari perempuan internasional.

Tepat pada 1913, hari perempuan internasional ditetapkan pada tanggal 8 maret. Sementara di Rusia 8 Maret 1917, kaum buruh perempuan di St. Petersburg juga melakukan demonstrasi besar-besaran. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) kemudian meresmikan hari perempuan internasional sebagai hari untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia.

Pertanyaan yang akan terus menjadi tanya bagi siapapun yang menjadikan hari perempuan sekadar pemberitaan harian bagi dunia, satu hari itu omong kosong! Tujuan dari hari perempuan internasionl adalah kesetaraan gender dalam perspektif persamaan kesempatan di dalam masyarakat. Dunia merayakan hari perempuan internasional dan disaat yang sama dunia abai terhadap segala ketidakadilan yang  menimpa perempuan.

Sistem diluar diri perempuan laki-laki, atau segala orientasi seksual apapun terus menjerumuskan segalanya kedalam ketidakadilan. Perubahan wajah yang ditunjukkan oleh sistem kapitalisme. Menjauhkan segalanya terhadap kehendak manusia, karena spesialisasi muncul di tengah-tengah kehendak laki-laki ataupun kehendak perempuan, dll. Spesialisasi yang didasari pada efisiensi dan meniscyakan terjadinya dominasi.

Perempuan harus melepas segala belenggu atas dirinya, termasuk segala hal yang menentukan kehendak dan keinginannya dalam masyarakat. Streotipe negatif dilekatkan pada apapun yang tidak sesuai dengan konstruksi masyarakat dan kehendak umum. Konstruksi masyarakat yang ada memaksakan perempuan hidup dan terpenjara dalam tempurung. Ketidakadilan yang menimpa perempuan tak hanya kekerasan fisik, melebihi itu kekerasan seksual, dan kekerasan emosial sering terjadi. Bukan berarti orientasi seksual atau gender tertentu tidak mengalami ketertindasan. Melebihi itu perempuan lebih banyak mengalami ketidakadilan.

Apa yang terjadi ketika orang lain mengatur bagaimana perempuan harus berjalan, berlari, duduk, berbicara, ukuran bra, rabahan tubuh yang tidak dikehendaki, mengolok-olokmu, polesan bibir, merokok atau kretek, dan moralitas dalam bergaul. Katakan saja perempuan yang merokok didepan umum, akan  menimbulkan banyak cemoohan dan hinaan: “perempuan perek, jalang” padahal merokok bukan soal laki-laki, perempuan, atau segala orientasi seksual apapun. Selama si perokok tidak menghilangkan penghormatan terhadap yang tidak merokok dan pada anak-anak kecil tentunya. Perempuan yang merokok pun tidak dapat diindikatori dengan moralitas tertentu sebab jauh dari segalanya merokok persoalan tanggung jawab pribadi.

Apa yang terjadi ketika orang lain mengatur bagaimana perempuan harus berjalan, berlari, duduk, berbicara, ukuran bra, rabahan tubuh yang tidak dikehendaki, mengolok-olokmu, polesan bibir, merokok atau kretek, dan moralitas dalam bergaul.

Perempuan harus merebut segala yang terenggut darinya termasuk dengan jalan memukul kembali apapun atau siapapun yang melakukan kekerasan fisik, seksual, dan emosional terhadap dirinya. Perempuan harus menolak dengan tegas apapun yang merujuk pada pembatasan dan pemaksaan untuk mengikuti kehendak umum. Menjadi berbeda adalah ketidakmungkinan yang  harus dimenangkan. Bawalah alat tertentu untuk menghindarkanmu dari kekerasan seksual, berdirilah dengan congkak menolak konstruksi pasar, tolaklah indikator-indikator cantik dan ta

mpan ala media terhadap produk tertentu, tolaklah berciuman tanpa dikehendaki bersama, tolaklah segalanya! Matikan tv mu! Kepalkan tinjumu! Lantangkan penolakan, lalu tinju dan runtuhkan sistem yang melanggengkan penindasan terhadap hal materil dan non materil pada dirimu. Turun ke jalan ramaikan jalan dengan gayamu sendiri.

Stereotipe apapun itu bisa diyakini oleh siapapun, hanya karena telah menjadi kehendak umum. Meski itu tak juga selalu benar.

————————

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Tanah, FAPERTA UNHAS.

Angkatan 2014.

Previous AKSI TOLAK REVISI UU MD3 di Depan Kampus UNHAS
Next Jam Malam untuk Siapa?

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *