Oleh: Nomi

*Sebuah opini tentang bagaimana birokrasi kampus bekerja.

Hidup Mahasiswa!

Lantaran kekecewaan yang begitu dalam, saya sampai bingung dengan kata apa memulai tulisan ini, mau mengumpat tapi takut dosa. Kiranya dua kata yang tersebut di atas cocok untuk mengawali tulisan ini, meski kadang saya malas mengucapkannya, tapi saya pernah meneriakkannya dengan lantang dan begitu berapi-api.

Itu dulu, waktu saya masih fanatik, tapi bukan berarti sekarang saya pragmatik. Aku adalah Aku. Asik! Baiklah, kita tidak perlu berlama-lama dengan kalimat pembuka tersebut karena waktu anda tentu sangat berharga untuk hal remeh nan temeh seperti itu. pembaca yang baik hatinya, telah saya tuliskan di atas, tulisan ini ditulis karena sebuah kekecewaan, tapi kecewa pada siapa dan karena apa? Yang pasti bukan kecewa pada si dia, sebab dengan si dia saya sudah akhiri karena tempo hari dia lebih memilih masuk kuliah daripada ikut aksi. Sungguh saya bisa menerima apapun selain pilihan sikapnya itu. Kembali lagi, jadi pada siapa dan karena apa? Mari simak jawaban saya…

Mungkin sebagian dari pembaca sudah mafhum (Bahasa serapan yang artinya paham atau memahami) tentang bagaimana birokrasi bekerja membungkam mahasiswa, namun tentu ada juga yang bertanya-tanya. Pembaca yang sudah mafhum tentu peka terhadap realitas di sekitarnya dan bukan penderita Literashit, yakni menderita sakit dalam bacaan.

Itu adalah penamaan terhadap kondisi dimana seseorang membaca hanya karena disuruh dosen atau karena besok ujian. Sedang yang bertanya-tanya tentu semata-mata karena tidak tau, benar kan? Oleh karena itu, penting bagi anda untuk meneruskan membaca tulisan ini, sementara bagi anda yang merasa diri sudah mafhum, hukumnya sunnah semata, tapi sunnah-nya pake Muakkad, alias sangat dianjurkan jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.

Birokra(shit) membunuhmu bukan berarti penghilangan nyawa dari tubuh dan hanya menyisakan jasad oleh Birokra(shit), sebutan untuk Birokrat yang Shit!, karena ada juga Birokrat yang berhati malaikat, yakni Birokrat yang meski takut-takut, tapi dengan senang hati membeberkan keburukan sesama Birokrat pada pers.

Penghilangan nyawa saat ini tentu tidak akan dipilih oleh Birokra(shit) karena sangat beresiko dan terancam masuk neraka jika menurut ajaran agama, akan tetapi situasi dan kondisi dimana kita digiring untuk menjadi diam dan meninggalkan sikap kritis pun dapat diartikan sebagai sebuah usaha pembunuhan, bahkan dapat dimasukkan dalam kategori pembunuhan berencana dan dilakukan secara struktural dimana di Negara kita tindak pidana seperti itu bisa dikenakan maksimal hukuman mati. Ngerii!!!

Lalu dengan cara apa Birokra(shit) membunuhmu? Tentu ada banyak cara yang ditempuh dan ada-ada saja. Bahkan diusahakan agar target (kita) tidak merasa  sedang dalam rencana pembunuhan, jadi waspadalah, waspadalah! Dari banyaknya cara yang mungkin ditempuh dan sedikitnya yang bisa dituliskan disini, antaranya..

  • Pemberian banyak tugas

Yap! Kita patut skeptis terhadap banyaknya tugas kuliah dan jadwal yang dibuat sepadat mungkin. Satu diantara banyaknya kemungkinan adalah itu usaha agar kita lebih fokus terhadap akademik, dan persetan dengan realitas di luar sana. Mahasiswa digenjot untuk cepat selesai tanpa memikirkan perkembangan si mahasiswa. Skrip(shit) seringkali menjadi arena pacuan. Siapa cepat dia sarjana duluan, wkwkwk.

  • Ancaman verbal

Diantara yang lain, mungkin ini cara yang paling sering ditempuh oleh Birokra(shit), karena memang sangat ampuh dan manjur bagai ramuan mbah dukun. Jiwa-jiwa yang lemah tentu tak dapat berkutik jika diperhadapkan pada ancaman DO, IP rendah, dan lain semacamnya. Dan yang paling lemah biasanya adalah mereka penerima beasiswa seperti diantaranya Bidikmi(shit).

Padahal tidak satupun beasiswa yang mencantumkan pelarangan ikut demo dan semacamnya dalam persyaratannya, karena menyuarakan pendapat adalah hak segala bangsa, lalu kenapa Birokra(shit) yang digaji dari uang rakyat itu merasa berhak melarang?

Dalam banyak kesempatan, misal pada pertemuan mahasiswa penerima beasiswa, Wakil Tuhan III  dengan jelas melarang untuk ikut aksi seperti demo. Hal ini juga biasanya disampaikan jika isu rencana aksi terendus oleh Birokra(shit). Hal ini menimpah beberapa kawan saya.

Sebenarnya mereka cukup antusias merespon isu-isu yang meresahkan, tapi kadang mereka segan turun ke jalan karena rasa takut beasiswanya dicabut.  Sungguh menyedihkan, Beasiswa dijadikan alat bungkam untuk membunuh nalar kritis dari mahasiswa.

  • Ancaman Represi dan Premanisme

Manusia-manusia kuat dengan jiwa-jiwa yang kuat seperti dalam lirik lagu tulus yang berhasil melewati poin no.2 di atas bukannya sudah lolos. Ancaman represi dan premanisme menunggu di setiap ujung jalan dan sudut kampus, bahkan ketika kau berada di kerumunan massa aksi. Birokra(shit) biasanya akan marah-marah jika melihat orang berdemo dan mengatakan itu cara lama yang sangat tidak milenial, padahal selama Bumi masih berputar di porosnya cara itu akan selalu relevan.

Di sisi lain mereka menggunakan cara-cara warisan orde baru untuk mengatasi hal tersebut. Sungguh suatu paradoks. Petugas keamanan yang seharusnya menjaga keamanan kampus seringkali juga dipakai untuk menghajar mahasiswa, maka jangan heran jika di kampus masih sering kecurian.

Mungkin masih ada yang mengingat kasus pemukulan yang dialami beberapa kawan mahasiswa di awal tahun 2016, termasuk Munib mahasiswa Sastra Inggris 2014 pada aksi tolak PTN-BH. Ia bahkan menderita memar  dan luka di beberapa bagian tubuh. Namun sayang kasus pemukulan tersebut tidak ditindaklanjuti dan menguap seperti embun di pagi hari.

Itulah tiga cara yang sering dipakai birokra(shit) untuk membungkam dan secara tidak langsung membunuh nalar-nalar kritis yang sudah sampai klimaksnya. Masih banyak cara lain yang mungkin ditempuh. Dan salah satu cara lain yang ditempuh selain tiga yang disebutkan di atas adalah Individual Attack, yakni serangan yang dilancarkan terhadap individu-individu.

Dalam hal ini sepertinya Birokra(shit) mendalami betul kata bijak “Bersatu kita teguh, bercerai kita berantakan”. Oleh sebab itu jarang ada yang mau menemui massa aksi, tapi diam-diam mengidentifikasi dan memanggil siapa-siapa yang terlibat, sungguh pengecut, seperti cuka saja. Birokra(shit) tidak bekerja sendirian, seperti saya tuliskan di atas, kerjanya terstruktur. Kepala tidak akan turun ke lapangan, kaki tangan-nyalah yang bergerak, namanya intel. Jangan kira cuma Negara yang punya, di kampus pun berseliweran Intel, so take your self.

Nama-nama yang teridentifikasi selanjutnya akan dipanggil secara personal, oleh Ketua Prodi, Wakil Dekan, bahkan sampai Wakil Rektor. Heran mengapa hanya individu tertentu yang dipanggil. Sepertinya dalam kacamata Birokra(shit) individu-individu tersebutlah biang keroknya, yang mengompori massa dan dalang dibalik semuanya.

Mereka berharap dengan menundukkan indidu-individu tersebut masalah selesai. I just want to say, Hello? Memangnya ini masalah pribadi?

Saya beri contoh, aksi terkait PR ORMAWA tempo hari mendapat respon dari Birokra(shit) yang mulai geram. Tapi bukannya membuka forum secepatnya dengan mahasiswa untuk membahas hal tersebut, yang dilakukan justru memanggili satu persatu orang yang diberi label dalang dibalik aksi tersebut, haddeh! Gak nyambung! Bagaimana mungkin masalah kolektif diselesaikan dengan cerita empat mata? Inilah penyebab kekecewaan saya. Birokra(shit) seperti meniru cara Dilan, iya Dilan. Dengan lemah lembut tapi sarat makna mengatakan pada Ibu Rektor yang cantik, “Jangan bilang ada yang mendemo mu, nanti dia hilang”. WKWKWKWK

Sekian, dari saya yang tersakiti.

Saya tau, ini lebih mirip sumpah serapah dibanding sebuah tulisan yang layak baca. Itu karena saya keburu dapat telpon Wakil Tuhan III. BYE.


Previous Markus Giroth; Usaha Menyelamatkan “Partai” di Sulawesi
Next Sastra dalam Perjuangan Politik

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.